Bagaimana Menyiasati Hutang Apabila Terkena PHK

Lesunya ekonomi global yang berimbas pada melambatnya roda perekonomian Indonesia kini berpengaruh pada genjotan industri. Pergerakan aktivitas industri pun perlahan semakin menurun. Efeknya, tidak sedikit perusahaan memilih untuk efisiensi yang berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan miliknya.

 


Berdasarkan penuturan Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri memasuki penghujung Agustus 2015 lalu tercatat sudah 26 ribu karyawan di Indonesia terkena PHK. Tentunya ini tidak hanya mempercepat laju inflasi tapi juga memporakporandakan keuangan rumah tangga karyawan yang terpapar dampak PHK.


Jika selama ini, keuangan lancar dengan adanya gaji bulanan maka pesangon tidak akan mampu menopang kebutuhan sehari-hari dalam waktu yang lama. Pengelolaan keuangan lebih ketat pun harus dilakukan. Bahaya kredit macet pun mengintai.

 

pic source: usnews.com

pic source: usnews.com

Malang tak dapat ditolak, ketika kita menjadi bagian dari ribuan karyawan yang di-PHK tersebut sudah saatnya ikat pinggang lebih kencang. Ketika kita semakin dekat dengan tenggat hutang yang membelit atau malah sudah kepalang terlilit hutang yang menjerat, mungkin beberapa hal ini harus segera dilakukan.

 

 

1. Kalkulasi Semua Dana yang Dimiliki

Setelah PHK, otomatis satu-satunya dana tumpuan yang kita miliki adalah pesangon dan uang penghargaan dari perusahaan yang bergantung pada masa kerja. Sebaiknya kalkulasi seluruh dana yang kita miliki dari PHK, lalu tambahkan dengan dana darurat yang selama ini sudah kita siapkan, catat semua kebutuhan yang harus dibayarkan setiap bulannya termasuk berapa banyak hutang yang kita miliki.

 

2. Kurangi Standar Biaya Hidup

Jika sebelumnya masih tersedia ruang untuk bersantai di luar rumah saat akhir pekan, sebaiknya hentikan dulu untuk sementara. Hindari menghabiskan uang dalam jumlah besar untuk pengeluaran yang tidak mendesak. Begitu juga dengan belanja kebutuhan sehari-hari, perhitungkan semua nilai yang dikeluarkan, jika ada kebutuhan yang bisa dipangkas sebaiknya segera dipotong.

 


3. Prioritaskan Pembayaran hutang

Hal berikutnya yang harus menjadi perhatian adalah pelunasan biaya hutang. Ada baiknya sisa dari pengeluaran keseharian digunakan untuk melunasi hutang. Dimulai dengan mengurutkannya berdasarkan tenggat waktu terdekat. Itu akan membantu menghitung dana yang mendesak untuk segera dikeluarkan. Segera informasikan kepada bank terkait mengenai keadaan yang sedang kita hadapi. Komunikasi tersebut bisa menjadi awal diskusi dan jalan keluar sementara yang bisa ditawarkan pihak bank untuk membantu.

 

4. Cari Alternatif Solusi

Ketika pengeluaran semakin mendesak dan hutang sudah menggedor. Segera cari alternatif, bisa dengan menjual aset yang dimiliki atau meminta bantuan dari pihak ketiga. Sebagai contoh, kita salah satu hutang yang melilit adalah hutang kartu kredit, coba tilik www.amalan.id. Perluas informasi dan segera cari jalan keluar sebelum semua menghimpit. Pada akhirnya semua tetap butuh usaha dan bantuan dari berbagai pihak. Maka jangan putus asa karena akan selalu ada jalan keluar dari semua rintangan yang membelenggu.  

 

Sumber :

http://personalfinance.kontan.co.id/news/atur-ulang-keuangan-saat-terkena-phk

 

http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150831195417-20-75719/menteri-hanif-sudah-26-ribu-pekerja-di-phk/